Satu hal yang baru saya sadari setelah dua tahun menjadi anak psikologi adalah saya mulai menjadi pemaklum ulung. Saya kira itu pertanda bagus karena saya mengerti perasaan dan keadaan orang lain. Sampai suatu ketika teman saya bertanya:
“Lo kenapa jadi terlalu maklum gini sih?”
Saat itu pula saya mulai bertanya pada diri sendiri. Apakah benar saya memang terlalu memaklumi keadaan? Apa kerugian dari semua pemakluman saya terhadap orang lain?
Ternyata ada. Saya mengorbankan perasaan saya sendiri.
It’s okay for being selfish sometimes.