“Gue ga mau ah jadi panitia ospek”.
“Kayaknya gue ga akan ikut BEM deh”
“Gue mana kuat LDR, clingy gini”.
Ketiga pernyataan di atas benar-benar pernah saya ucapkan. Percayalah, ketiga hal tersebut akhirnya saya jalani semua.
Menjadi panitia ospek awalnya bukanlah hal yang saya inginkan. Saya merasa jauh dari tipe mahasiswa yang tertarik untuk membantu dedek-dedek lucu untuk beradaptasi di dunia perkuliahan. Tapi ternyata, entah dari mana awalnya, saya menjadi panitia ospek tahun lalu. Bahkan menjadi BPH….
“Gue ga mau ah jadi panitia ospek”
“Iya nih, gue jadi Wa-PJ Humas Ospek. Hehe”
Ternyata asik juga. Banyak kenal senior.
Selanjutnya, Badan Eksekutif Mahasiswa. Saat mendengar kata “BEM”, terutama BEM UI, yang ada di pikiran saya adalah mahasiswa yang aktivismenya tinggi. Sering bersinggungan dengan politik dan cenderung kontra pemerintah. Ah, saya apatis. Pastilah tidak cocok jika bergabung dengan BEM. Kemudian, entah mengapa akhirnya saya ada di sini, BEM UI. Bahkan, saya tergabung dalam Departemen Kajian dan Aksi Strategis yang sangat politis. Kerjaannya ngurusin Pemilu, BBM, dan isu-isu politik lainnya.
“Kayaknya gue ga akan ikut BEM deh”
“Iya nih gue anak BEM UI. Staff Kastrat. Hehehe”
Ternyata, politik tidak serumit dan seburuk itu. Politikus busuklah yang membuat stigma negatif kian menyebar dan membuat masyarakat enggan berpartisipasi. Saya banyak belajar di organisasi ini.
Terakhir, being in long-distance relationship. Banyak teman saya yang terlibat dalam hubungan romantisme jarak jauh. Rata-rata masih satu pulau, sih. Tapi, lumayan banyak juga yang sering galau. Saya sendiri merasa tidak akan kuat dan pasti akan galau juga apabila menjalani LDR. “Mending jomblo deh”. Gitu. Kemudian, entah mengapa pula akhirnya saya turut “terjebak” dalam hubungan romantisme jarak jauh. Tidak tanggung-tanggung, beda negara, beda benua, beda zona waktu *menghela nafas*
“Gue mana kuat LDR, clingy gini”.
“Iya nih, cowok gue di Jerman. Hehehe”
Sudah memasuki bulan ketiga dengan Ilham and it’s going pretty well. Iya, saya memang clingy. Tapi itu semua bisa diatasi dengan segala teknologi yang semakin mutakhir. Terima kasih saya ucapkan kepada Wifi, Line, dan Skype. The distance means nothing.
Dari ketiga pernyataan yang pernah saya lontarkan, terlihat bahwa saya terlalu resisten terhadap beberapa hal. Mengapa resistensi tersebut sedemikin kuatnya? Padahal saya belum terlalu mengenal hal-hal yang saya hindari. Terlalu beranggapan negatif, mungkin. Namun, sepertinya Tuhan menginginkan saya untuk lebih berpikiran terbuka dan belajar untuk mengenal sesuatunya terlebih dahulu, baru boleh memberikan penilaian terhadapnya. Tahukah kamu? Ternyata prasangka negatif saya terhadap hal-hal tersebut hilang saat saya lebih mengenalnya.
Memang benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.