Manusia memiliki ketakutan akan ketidaktahuan, ketidakjelasan, sesuatu yang asing, dan yang baru setitik informasi dapat diperoleh darinya. Ada dorongan untuk menemukan penjelasan akan itu semua. Nenek moyang kita yang belum memiliki pengetahuan mencoba berbagai cara untuk menemukan jawaban dari berbagai hal yang ada di sekitar mereka. Misalnya saja alasan dibalik terbentuknya petir. Dalam mitologi Nordik, ada Dewa Thor yang terkenal dengan palunya yang bernama Mjolnir. Apabila ia mengayunkan Mjolnir, munculah suara gemuruh dan kilatan cahaya yang kemudian diyakini sebagai petir itu sendiri. Tidak hanya Nordik yang memiliki mitologi, Yunani juga terkenal dengan mitologinya. Di Indonesia pun terdapat dongeng-dongeng yang beragam di tiap daerahnya tentang alam dan sebagainya. Cerita-cerita tersebut merupakan kompensasi atas ketidaktahuan mereka. Mereka merasa dapat mereduksi keasingan. Padahal penjelasannya juga dibuat sendiri. Asumtif.
Semakin lama validasi dari dongeng-dongeng itu melemah digantikan oleh sains yang lebih “masuk akal”. Tetapi sains tidak pernah memberikan kepuasan. Selalu ada jawaban baru yang ditemukan, teori yang tersanggah, pencerahan dari “kesesatan” yang mungkin terlalu lama dibiarkan sehingga dianggap benar. Respon dari jawaban tersebut juga selalu beragam. Ada yang mau menerima, ada pula yang tidak mau menerima karena terlanjur nyaman berada dalam selimut “kesesatan”. Penolakan tersebut menjadi pemicu penelitian-penelitian berikutnya untuk membenarkan “kesesatan” yang disanggah.
Bagaimana dengan mencari pasangan? Gejalanya mirip bukan? Sama-sama asing. Ada ketertarikan terhadapnya sehingga muncul keinginan untuk mengenalnya lebih dalam. Ingin mencari tahu siapakah orang ini. Mengapa kita begitu tertarik padanya? What is so special about him/her? Kita menjadi peneliti! Segala informasi yang bisa kita raih tentangnya menjadi sumber data awal bagi penelitian kita. Asumsi-asumsi yang muncul mulai disusun menjadi hipotesis untuk diuji. Berbagai metode bisa digunakan. Kita bisa mewawancarai dia secara langsung, mewawancarai orang-orang dekatnya, mengobservasi tingkah lakunya. Bisa juga kita berikan dia beberapa variasi perlakuan untuk melihat responnya dari setiap perlakuan tersebut. Yang sulit adalah untuk mengeliminasi subjektifitas. Sering muncul harapan-harapan dari kita si eksperimenter terhadap respon yang ia tunjukkan. Harapan ini yang mengganggu jalannya penelitian. Kita berharap dia juga mencintai kita. Kita berharap dia orang yang tepat. Kita berharap dia melibatkan kita dalam perencanaan masa depannya. Kita berharap hipotesis nol ditolak.
Jika ternyata hasil penelitian tidak sesuai dengan harapan, maka maukah kita menerimanya? Mungkin ada variabel-variabel yang luput untuk saya kontrol. Mungkin data yang saya ambil masih belum representatif. Mungkin alat ukur yang saya pakai tidak terstandarisasi. Mungkin… Mungkin… Mungkin… Baiklah, sebenarnya sejak awal saya tidak bisa mengenyahkan begitu saja harapan-harapan terhadapmu. Ada variabel yang bernama cinta yang sengaja tidak saya kontrol. Sengaja saya biarkan menjadi energi dalam penelitian saya. Saya rasa butuh selamanya untuk meneliti kamu, mengenal kamu.
Teorinya buat saya jatuh cinta …
Ahahahaa
Terima kasih! 🙂